Lebih 200 hektar Hutan Lindung Bukit Betabuh, Riau,  terbakar sejak Minggu (9/1/17) hingga Senin sore api terus membara. Kebakaran telah menghancurkan 40 hektar lahan restorasi Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) Bukit Betabuh.

Kepala KPH Lindung Bukit Betabuh Haris, mengatakan, menerima laporan warga Minggu pagi dan siang bersama enam petugas KPH menuju lokasi kebakaran di Desa Pangkalan, Kecamatan Pucuk Rantau. Jarak tempuh ke lokasi yang berbukit-bukit ini perlu lebih dua jam dari Kota Taluk Kuantan, Ibukota Kuantan Singingi.

“Kita langsung cek ke lokasi. Melokalisir dengan kekuatan enam orang.  Kita mengamankan areal penanaman (restorasi),” katanya saat dihubungi Mongabay Senin sore.

Tak banyak bisa dilakukan petugas karena luasan terbakar ratusan hektar dengan kontur tanah berbukit. Terlebih, saat itu angin cukup kencang hingga kobaran api cepat menjalar ke lahan belum terbakar.

Areal terbakar memang bukan lagi hutan dengan tegakan kayu rapat tetapi semak belukar dengan beberapa kayu. Di lokasi ada ribuan bibit tanaman hutan dan buah-buahan baru ditanam tahun lalu untuk restorasi. “Habis semua. Palingan tinggal 10 hektar, 40 hektar habis,” ucap Haris.

Hari kedua pemadaman, selain 11 anggota KPHL juga dibantu 11 TNI dan polisi. Sayangnya, alat tersedia hanya penyemprot hama yang biasa dipakai petani. Api dengan tak bisa padam semua.

“Kami sudah minta bantuan perusahaan terdekat. Ada PT Tri Bakti Sarimas. Saya sudah minta bantu. Kebun mereka terdekat dengan lokasi,” katanya.

Areal terbakar di hutan lindung Bukit Betabuh, Riau. Foto: Zamzami

 

 

 

“Areal terbakar di hutan lindung Bukit Betabuh, Riau. Foto: KPHL Bukit Betabuh”

 

 

 

 

 

Di sekitar kawasan terbakar, katanya,  terlihat beberapa bibit sawit sekitar dua tahunan. Sementara api hanya membakar semak dengan beberapa pohon. Haris melihat bangunan gubuk kecil biasa dipakai petani.

“Saya tak melihat mereka. Sepertinya mereka kabur pas hari pertama. Hari kedua kemarin saya jumpa mereka dan memberikan peringatan keras. Kita akan angkat mereka kalau berani menanam di areal terbakar.”

Menurut Haris,  kawasan sekitar lokasi sudah banyak dikuasai perambah. Secara hukum,  mereka tak berhak karena wilayah itu hutan lindung. Jadi tak boleh ada perkebunan kecuali mendapat izin negara.

Hutan Lindung Bukit Betabuh seluas 43.541,49 hektar dikelola KPHL Bukit Betabuh, dengan kondisi cukup memprihatinkan. Pada 2015, kebakaran hebat menghancurkan bukit-bukit hutan. Luasan mencapai ratusan hektar. Pada Desember tahun lalu kebakaran juga menghanguskan sekitar 500 hektar di perbatasan dengan Sumatera Barat.

Berdasarkan analisa Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Pekanbaru, pada Senin kemarin terdeteksi tujuh titik panas, tiga di Kabupaten Pelalawan, tiga di Siak dan satu di Kuantan Singingi.

“Kondisi iklim global masih La-Nina lemah. Ini sampai Maret. Seminggu lalu memang agak kering di Riau walau masih musim hujan sekarang. Kemarau pertama baru mulai Februari,” kata Slamet Riyadi dari BMKG kepada Mongabay, Selasa pagi.

Mengenai prediksi iklim 2017, katanya, secara umum hampir sama dengan 2014. Kemarau kering pertengahan tahun ini mulai sekitar Mei hingga September. “Ini akan rawan kebakaran.”

Asap masih mengepul dari hutan lingdung Bukit Betabuh, yang terbakar. Foto: Zamzami

 

 

 

 

“Asap masih mengepul dari hutan lingdung Bukit Betabuh, yang terbakar. Foto: KPHL Bukit Betabuh”

 

 

 

 

Di hutan lindung yang terbakar itu tampak ada yang mulai menanam sawit. Foto: Zamzami

 

 

 

“Di hutan lindung yang terbakar itu tampak ada yang mulai menanam sawit. Foto: KPHL Bukit Betabuh”

Silahkan Tinggalkan Komentar